Manis bukan Berarti Dimadu

meaning of life meme 2

Aku sedang berusaha keras menutup iklan pop-up tentang pembesar penis ketika streaming Liga Champion. Di saat yang bersamaan, pintu kamar terbuka, saya sarungan, dan tetangga housing lewat sembari mencuri pandang ke layar laptopku. Dua gadis british terkikik geli.

Kenal manis, tapi nggak tau kalo itu gula. Melewatkan makna sebenarnya karena cuma merasakan, bukannya memahami.

Mungkin seperti itulah kebanyakan orang memandang dunia ini. Dunia yang mengajarkan untuk melihat tapi nggak memperhatikan, mendengar tapi bukan mendengarkan, dan berpikir tanpa memaknai. Tau kalau itu manis tapi nggak kenal kalau itu madu.

Salah satu pertanyaan saat wawancara beasiswa adalah mengenai bagaimana kalau ilmu master yang kuambil (kalau lulus) tidak terpakai saat bekerja. Dengan mengaggumkan, aku berbicara tentang rencanaku yang jauh dari mengejar gelar belaka. Aku ingin memaknai eksistensi hidupku di dunia ini, tidak cuma mendengar cerita di dalam gua Indonesia.  Kalau nggak salah aku menggunakan kata “menemukenali diri sendiri” agar tampak cerdas. Tampaknya omong kosongku bekerja, karena beberapa minggu kemudian aku dinyatakan lolos seleksi wawancara.

Tapi memang, kalau boleh jujur, tidak ada hal baru yang kudapat dari mata kuliah Rijkuniversiteit Groningen, selain baru tahu kalau bahasa inggrisnya iya adalah yes bukan iyes. (“Pantesan lu resit mulu ya”, kata seorang kawan yang kebetulan lewat).

Pekerjaanku sebagai Aparatur Sipil Negara lebih banyak mengajarkan hal baru saat bersentuhan dengan masyarakat, ketimbang melahap 60 ECTS kuliah di Belanda. (“Bukannya lu baru sekali doang ke kawasan kumuh bray?”,timpal seorang kawan yang gemuk dan berkeringat sembari lewat).

Makannya aku banyak berjalan-jalan untuk melihat Negara sekitar, untuk menemukenali jati diri sendiri dan makna diriku. Menurutku, itulah yang terpenting sebelum kembali ke Negaraku Indonesia tercinta. (“Alesaann ah nang”, kata simbok-ku)

Anyway, dunia ini mengajarkan untuk mengejar uang, tanpa tau buat apa uang itu sebenarnya. Pemuda pemudi tanggung yang baru wisuda sudah menelusuri portal lowongan kerja dengan kata kunci “gaji minimum”. Mereka kurang begitu peduli dengan latar belakang perusahaan, asalkan perusahaan itu besar. Setelah diterima di perusahaan multinasional, mereka merendahkan kondisi Indonesia sembari memperkosa kondisi alam dan sosial suatu Negara.

Di artikel Rhenald Kasali dalam milis beasiswa saya, disebutkan bahwa Harvard memajang esai mahasiswanya yang berisi tentang impian mereka yang jauh dari materi duniawi belaka. Kebanyakan mereka berusaha mencari makna hidup mereka saat bermaksud kuliah disana.

Mungkin ini yang dibutuhkan pemuda pemudi Indonesia. Kalau dari filsafat jawa, orang bermartabat mempunyai keris sebagai lambang kebijaksanaan. Derajat di bawahnya punya pedang dan tombak (lambang kekuatan dan kekuasaan). Di bawahnya lagi pacul/cangkul (lambang harta).

Selain itu, Adam itu sudah didesain Tuhan sebagai “Ahsanu taqwim” (QS 95:4), yakni mahluk hidup sebaik-baiknya, lebih baik dari malaikat dan iblis, karena diberi kesempatan buat mencari makna hidup. Modal sudah diberi oleh Tuhan. Tinggal manusia sendiri yang memoles, mau jadi apa.

Maka, temukan kerismu dan poleslah! selamat hari kebangkitan nasional. (matiin situs porno terus sholat).

 

 

Ethos of being Modern Society

 

Fitter Happier by Radiohead

more productive
comfortable
not drinking too much
regular exercise at the gym (3 days a week)
getting on better with your associate employee contemporaries
at ease
eating well (no more microwave dinners and saturated fats)
a patient better driver
a safer car (baby smiling in back seat)
sleeping well (no bad dreams)
no paranoia
careful to all animals (never washing spiders down the plughole)
keep in contact with old friends (enjoy a drink now and then)
will frequently check credit at (moral) bank (hole in wall)
favours for favours
fond but not in love
charity standing orders
on sundays ring road supermarket
(no killing moths or putting boiling water on the ants)
car wash (also on sundays)
no longer afraid of the dark
or midday shadows
nothing so ridiculously teenage and desperate
nothing so childish
at a better pace
slower and more calculated
no chance of escape
now self-employed
concerned (but powerless)
an empowered and informed member of society (pragmatism not idealism)
will not cry in public
less chance of illness
tires that grip in the wet (shot of baby strapped in back seat)
a good memory
still cries at a good film
still kisses with saliva
no longer empty and frantic
like a cat
tied to a stick
that’s driven into
frozen winter shit (the ability to laugh at weakness)
calm
fitter, healthier and more productive
a pig
in a cage
on antibiotics

Cerpen Venice

3

Kupandangai peta dengan tag lingkaran merah menyala bertuliskan ‘you are here’ di atas Pulau Giudecca. “mungkin ini menunjukkan lokasiku berada”, gumamku.

Bau amis dan asin yang dibawa angin Laut Adriatic menghambur dengan dentang lonceng memasuki setiap inderaku. Burung-burung beterbangan, dikejar anak-anak kecil. Tampak kerumunan kecil manusia tidak jauh dariku. Mereka memandang antusias ke arahku.

Sungai beruas-ruas masuk ke sela-sela deretan rumah bergaya renaissance. Papan-papan bertuliskan ‘canale’ ada di setiap sungai itu, baik yang kecil maupun yang besar. Banyak orang-orang bodoh yang menggunakan kapal berukuran satu ekor gajah agar bisa berjalan di atas sungai yang besar. Bodoh karena tidak ada mahluk di bumi ini yang hidupnya berjalan di atas air.

Aku kembali fokus memandang peta warna-warni. Aku sepertinya pernah mengenali bentuk ini.

Ada kapal kecil berwarna hitam mengkilat ala kecoak menyembul dari gang sungai yang kecil. Satu orang berdiri, berbaju garis-garis horizontal hitam dan putih, memegang tongkat untuk mendorong kapal. Di kapal kecil itu, ada juga yang duduk, cuma dua orang, kalau tidak salah mereka sering saling memegang pinggang dan berciuman. Ah, hanya orang bodoh. Sial! fokusku teralihkan.

Aku melihat peta lagi. Kemudian aku menengok ke kaca yang memantulkan tubuhku. Aku terkesiap, tersadar dengan apa yang ingin disampaikan peta ini.

Warna hijau, orange, biru, merah, dan hijau lagi (tetapi lebih gelap) mengalihkan perhatianku. Sudah satu jam aku berusaha memecahkan kode peta ini. Setiap warna tadi mengisi kotak-kotak yang bentuknya tidak beraturan. Kemudian secara acak garis putih dan biru mengisi sela kotak-kotak itu. Serupa urat nadi yang menyeruak di dalam otot dan daging. Warna biru yang lebih besar mengelilingi keseluruhan.

Kulihat lagi bayangan tampak sampingku. Peta ini mirip dengan apa yang menggantung di antara kedua pahaku. Mirip penisku, tetapi dari samping. Sekarang aku mengerti kenapa di atas warna biru yang luas tertulis “Map of Venice’s Sestieri’”. Pencipta pulau ini ingin bermain teka-teki kata denganku.

“Hihi, kau kira aku tertipu dengan memelesetkan penis menjadi venice” pikirku.

Aku melompat kegirangan, tertawa, dan berteriak “eureka!”.  Seperti orang gila, aku berlari menghampiri kerumunan manusia yang terdiri dari semua sub-jenisnya. Pria, wanita, tua, muda, besar, kecil, pintar, bodoh, sosialis, kapitalis, hitam, pucat, coklat,,,Tetapi semua ekspresi mereka sama, mengrenyit dan tampak, takut. Kenapa?

Satu kapal putih bertuliskan ‘polizia’ tampak tergesa-gesa datang ke arahku, bersusah payah kembali ke jalur setelah berkali-kali terhempas ke belakang.  Aku tertawa geli melihat ritme gerakan kapal yang tampak seperti orang sedang bercinta.

Setelah kapal tertambat, dua orang dengan seragam atasan biru muda dan celana panjang bergaris merah datang menghampiriku. Satu orang memiliki wajah yang tersenyum, bahkan saat tidak tersenyum. Tampaknya dia mempunyai masalah dengan lehernya, karena dia selalu melempar dagunya ke kanan setiap dua menit. Seorang lainnya, lebih pendek, berkumis, berkulit lebih gelap, dan tampak memiliki masalah dengan rambut rontok. Wajahnya mengingatkanku pada tokoh Sentenza alias Angel Eyes alias The Bad di film The Good, The Bad, and The Ugly. Keduanya memakai sunglass.

“Maaf pak, please, ikut saya”, satu orang berujar seraya memegang lenganku dengan senyum abadi-nya.

“Apakah kamu mengajakku untuk naik kapalmu?”, tanyaku

“Tentu”,

“Baiklah, aku mempunyai temuan menarik”, sembari berjalan riang mengikutinya, melewati Sentenza alias Angel Eyes alias The Bad.

“Lapor, sudah diamankan, pria asia, usia sekitar 25 tahun, diduga bermasalah dengan kesehatan mentalnya, dan telanjang” ujar Sentenza alias Angel Eyes alias The Bad kepada radio genggamnya.

Saat akan melangkah ke kapal, kurasakan dingin air di telapak kakiku yang telanjang. Kubaca koran pagi ini memang akan terjadi acqua alta dalam 3 hari ke depan. Kupandangi orang-orang yang menumpangi kapal. Bodohnya mereka, manusia tidak seharusnya jalan di atas air. Manusia seharusnya terbang.

Ljubljana, 1940

Plečnik* Story

Ljubljana City (sumber; http://www.tbs-education.fr)

 

I am not making a new city. I am fulfilling the city that has in potential always been, and that has waited for me, its architect, to be realized in its full glory. From my modern masters I have learned about monumentality, about tabula rasa, and breaking with the past. I had to learn these things in order to forget them consciously, for in Ljubljana my task is different. I was born in this town and I will die here, so that it can become itself. No longer a sleeping provincial town, but the city it has always wanted to be, crowned by its castle, its streets radiant sunbeams springing off from the centre, the river its vital vein.

I am the writer of this city, I write in stones and trees, I write the paths under people’s feet, I write the course of the river, I write in repetition. My handwriting repeats itself in the city, in different disguises: in the pyramids and spheres at bridges and street corners, silently referring to one another, in the pavement of niches and benches, in subtle additions to buildings, in the replacement of old buildings by new ones, expressing the spirit of the true Ljubljana.

I have erected a building for wisdom in the city, the National and University Library. Its façade in stones and bricks, alive in its plasticity, can be seen from Castle Hill, and even when seen from there its rhythm seems to speak with the million voices of its erudite content. I have given it doors in heavy copper, with noble horse heads as handshakes. Inside, the dark tone of respect. Black marble, big columns, a monumental staircase leading in one long flight to the reading room high and pleasant, I used wooden tables on marble columns, and modern industrial lamps to enlighten the students on their path to knowledge. I have envisioned plan for a whole new university, at the edge of Tivoli Park. How great it would be, such a centre of knowledge and innovation embedded in the city’s most prominent park, a dialogue between the old power of the palace and the modern power of knowledge.

So far, the municipality has not approved my plan, but I continue to take step towards it: I have already redesigned the axis from Tivoli Palace to the city, widening the path, placing trees and lamp poles along it. I even took care of the dead of the city, so that they, too, will rest in the spirit of Ljubljana.  I designed the gates to the Žale cemetery, I made chapels, the memories monuments, the tombstones for the dead. My urban project, my life work, is timeless: there is no distinction between future and past, between the living and the dead.

I am neither a modernist nor a classicist, I observe and craft the city in all dimensions, I care for its details and its urban whole, I made it speak, I make it come alive by its intersecting narratives, I imagine and I realize this city, Ljubljana**.

* Jože Plečnik, 1872-1957, the architect who have strong impact on the identity of Ljubljana, Slovenia. Designed the triple bridge, Slovene National and University Library, Žale cemetery, Ljubljana river banks, parks, plazas, etc.

**taken from Klaske Havik’s Urban Literacy

Cerpen Groningen

Groningen Centrum dan Martini Tower

Groningen Centrum dan Martini Tower

Di tengah plaza, 2 remaja kaukasian dan 1 remaja negro, menendang terbang burung-burung merpati yang tengah mematuk taburan kue dari anak kecil dan bapaknya. Si anak menangis, bapak menggendongnya, dan tiga remaja tadi berjalan pergi sembari tertawa lepas. Burung-burung merpati berhamburan kembali mematuk kue dengan wajah masa bodoh.

Ansel kembali menyilangkan kaki bak wanita setelah sebelumnya mengangkang dengan tangan bersandar di trap-trap kayu serupa tangga yang menjadi tempat duduk bergaya kontemporer tipikal Eropa Utara. Grote Markt hari ini tengah diguyur limpahan sinar matahari sore Groningen yang lumayan hangat, namun menjadi sia-sia karena tertutup bayangan gedung Groninger Forum ditambah angin dingin Groningen yang masih picik. Di sudut jalan, bunga-bunga corydalis cava mulai bermekaran dengan warna ungu, malu-malu membingkai Martini Tower yang menjadi landmark kebanggan warga Groningen.

“Aku benci angin dingin di sini” gerutu Anselmo.

Ansel harus kembali ke kota yang dianggapnya membosankan ini. Lima tahun lalu, dia hanya mahasiswa arsitektur pemarah berkebangsaan Angola yang mengambil pogram master di Rijkuniversiteit Groningen. Menghabiskan waktunya dengan berjalan-jalan sambil menyumpahi betapa membosankannya Groningen, travelling, berbelanja, memasak, membaca buku, dan, tentu saja, kuliah. Gedung Groninger Forum saat itu sedang dibangun. Kini dia sudah menjabat sebagai associates di firma arsitektur terkemuka yang berpusat di London. Dia hanya ditugaskan untuk mengecek persiapan kantor cabang yang akan dibuka dua bulan lagi.

Dia memandang nanar toko-toko yang sudah bersiap tutup. Jam tangan superdry berwarna orange yang setia di tangannya sedari umur 21 tahun memberitahu waktu sudah semakin petang. Jarum panjang sudah 30 menit melewati angka 5. Femke janji hadir pukul 5 sore. Umur Ansel saat ini 26 tahun, dia sudah bertransformasi menjadi manusia yang sabar.

Ansel  berkenalan dengan Femke saat dia membeli buku bertema arsitektur. Femke menjadi penjaga toko buku Boekhandel Riemer yang bergaya minimalis kontemporer bernuansa coklat muda dan berdiri dengan khidmat di sudut jalan Nieuwe Ebbingestraat. Ansel langsung terkesima dengan senyum gigi putih Femke yang menyambutnya saat masuk ke dalam toko. Mungkin giginya tampak putih karena kontras dengan warna kulitnya yang coklat muda dan rambutnya yang berwarna hitam legam terurai berantakan hingga bahu. Wajahnya menunjukkan garis-garis tajam kaukasian yang diwarisi dari ayahnya, seorang pelaut Groningen yang menikah dengan mahasiswi dari Ghana.

“Hoooi!”, teriakan seorang wanita melatarbelakangi perpindahan posisi kaki Ansel yang kembali mengangkang untuk ke-7 kalinya.

Akhirnya, batin Ansel.

“Oke, kamu berhak kubayarin cokelat panas”, tukas Femke saat melihat mulut Ansel yang mulai menganga untuk menyemburkan protes.

“Plus burger”

Deal !”

“Kota macam apa sih, jam segini sudah banyak toko tutup”

Kata-kata dari Femke memberikan serangan déjà vu. Kata yang sama persis keluar ketika mereka pertama berkencan, setelah Ansel menghabiskan stok keberaniannya untuk mengajak Femke. Membutuhkan waktu 1 bulan 7 hari sejak mereka bertemu di Toko Buku dan intens berkomunikasi via Whatsapp hingga Ansel berhasil mengumpulkan keberanian. Kemudian mereka menghabiskan 5 jam kencan pertama mereka sebagian besar dengan hujatan-hujatan untuk Groningen, selain standar percakapan kencan pertama seperti keadaan keluarga dan pekerjaan beserta anekdot-anekdotnya.

“Maaf ya Ansel, aku harus menidurkan si bungsu”, senyum Femke.

“Iya”, Ansel masih terpesona dengan senyum Femke.

5 Tahun kemudian, mereka bertemu dengan kondisi masing-masing. Femke sudah beranak dua dan menikah dengan mahasiswa Indonesia yang bekerja sebagai dokter di Groningen. Dia sudah meninggalkan pekerjaannnya sebagai penjaga toko buku. Ketika mendengar kabar pernikahan mereka, Ansel terpukul. Menghabiskan waktunya dengan membabi buta melahap semua pekerjaan di kantor. Sisi positifnya, dia mendapatkan jabatan sebagai lead architect dalam dua tahun dan baru dua bulan menjalani jabatan yang sekarang, termuda di antara koleganya.

Pikiran pilu masa depan tanpa Femke kembali menghampiri hati Ansel. Kafe di seberang Boekhandel Riemer yang menjadi tempat kencan pertama mereka tampak hangat. Mereka berjalan menuju kesana dan tertawa mengenang kenangan, namun hati Ansel tercekat. Begitu juga dengan Femke.

Marrakesh (Fin)

Djemaa El Fnaa

Djemaa El Fnaa

 

“If you want to make God laugh, tell him about your plans”

-Woody Allen-

Di atas kasur tingkat Equity Point Hostel yang reyot tapi nyaman, terdengar hembusan nafas kasar dari teman seperjalananku, dengan latar belakang suara air mancur. Saya masih terjaga. Melihat sudut kamar bertembok tanah liat yang gelap. Lifehacker.com mengatakan, untuk bisa melihat dalam gelap, jangan melihat sumber cahaya dan gunakan satu mata. Itu sebabnya bajak laut memakai penutup satu mata.

Dengan satu tangan di mataku, saya berpikir untuk perjalanan di Marrakesh yang akan berlangsung dua jam lagi. Kubayangkan panas gurun yang memberikan pandangan blur dan bergoyang-goyang seperti yang pernah saya lihat di atas aspal Indonesia.

Saya berencana ke tempat yang sangat dingin setelah dari Maroko. Iceland (pulau es) secara harafiah sudah sesuai dengan keinginan saya. Selain itu, saya ingin bernapas dan menginjakkan kaki di Iceland karena Film seri Game of Thrones dan band bernama Sigur Rós.

Kata Woody Allen “Kalo kamu ingin bikin Tuhan tertawa, katakan rencana mu”.

“Saya punya rencana ke Iceland ya Tuhan”

Semua suara di sekitar saya berhenti.

“Oke, kamu akan kesana”, kata Tuhan sambil tertawa geli.

“Kapan? Kenapa tertawa?”, terkejut dengan suara di kepala saya.

“Lihat saja nanti”, kata-Nya sambil terkikik.

Suara dengkur Aldi dengan gemericik air mancur terdengar lagi. Kulepas tangan di mata kananku. Apakah lifehacker.com salah? Karena saya sedang melihat ke dalam gelap, dan sumber cahaya dunia menjawabnya. Ah, bukankah Tuhan penguasa terang dan gelap. Mungkin Beliau menjawab karena saya menggabungkan dua elemen itu. Semoga selera humor Tuhan menjadikanku manusia lebih baik. Amin.

Pagi sudah tiba, semua bersiap untuk meng-eksplorasi Kota Marrakesh ini. Kota ini dipakai sebagai lokasi shooting serial Game of Thrones, dalam scene kota yang di atas tanah gersang berpadang pasir yang memiliki budaya memperbudak manusia. Teman-teman sudah menyesuaikan pakaian dengan kondisi geografi disini. Kain tipis yang memberikan angin untuk berjalan menyusuri kulit telanjang kita. Alas kaki yang empuk di telapak kaki namun ber-sol keras. Kacamata matahari. Dan saya, memasang peci di kepala kemudian mulai melangkah ke Marrakesh dengan memegang gulungan itinerary di tangan kanan.

Teman- teman bergerombol membeli jus jeruk di Djemaa el Fna. Saya memilih stall yang berbeda dengan mereka karena prinsip pemerataan ekonomi, selain itu, memang saya orang yang individualis. Air jeruk segar dengan bulir-bulir yang memberikan tekstur empuk di mulut dan tenggorokan membasuh pikiran skeptis saya tentang rasa jus jeruk ini. Sebelumnya, saya merasa komentar tentang luar biasanya rasa jus jeruk di Maroko adalah overrated (seperti semua komentar di trip advisor). 5 dirham untuk satu gelas tipikal jus dan ini benar-benar great deal. Anda tidak akan menemukan rasa yang sama di Indonesia. Manis, asam, dan pahit memiliki rasio komposisi yang sama, berpadu menjadi satu kata, wuenak!

Satu teguk kesegaran. Saya melihat keramaian Old Medina di siang hari. Sangat kontras dengan perasaan malas dan tentram di malam hari. Dua hari sudah kita lewati di Marrakesh sejak dialog fiktif saya degan Tuhan. Malaysia, Jepang, Filipina, Korea, Indonesia, India, Kuala Lumpur, dan Jakarta adalah nama panggilan dari pedagang untuk kita selama mengintari souk-souk di Old Medina. Jika anda pecundang seperti saya, saya sarankan untuk tidak berkontak mata dengan pedagang, mereka akan berusaha menarikmu ke toko-nya. Namun, mereka tetap berterima kasih mekipun kita menolaknya. Wahai pecundang, beranilah menolak. Kuulang kalimat itu di kepala.

Bahia Palace

Bahia Palace

Dua teguk. Tembok putih dan keramik berwarna biru, tiang yang melengkung, courtyard yang semakin sejuk dengan keberadaan taneman-taneman berukuran kecil hingga sedang, langit-langit kayu cedar dan kusen berukir, serta sebaran motif zouak adalah definisi kecantikan yang digunakan arsitek Bahia Palace. Bahia memiliki padanan kata “istana kecantikan”. Istana ini dibangun pada 1860-an atas ide dari Si Musa, grand vizier/wazir (penasehat) Raja Maroko, untuk tempat tinggal anak dan penerusnya, Ahmed Ibn Moussa. Ahmed Ibn Moussa memiliki 4 istri dan 24 selir. Sebelum menjadi penasehat, Si Musa adalah budak di istana. Kata teman saya, Bahia Palace baru saja digunakan untuk lokasi foto America’s Next Top Model. Mungkin ini memang tempat dimana kecantikan bersemayam. Seperti kata promosi tempat ini, “You will literally get lost in the beauty”.

Tanjine

Tajine

Tiga teguk. Saya mengingat gurihnya rasa rabbit tajine yang dijual di Café Tiznit. Harganya tidak mahal, mungkin setara dengan harga tongseng di Jakarta. Restoran keluarga yang sederhana namun mendapat banyak referensi di Trip Advisor dan Time Out. Lokasinya berada di salah satu sudut Djemaa el Fna. Kita harus mengintari setiap sudut lapangan ini untuk menemukannya. Beruntung, salah satu kawan kita, Windi, ulang tahun dan membayar semua makanan. Dan karena itu saya tidak ingat harganya. Komentar di situs web tadi menyebutkan betapa kotornya tempat ini. Belajar dari sebelumnya, jangan percaya komentar di trip advisor, mereka bukan kita. Yang saya dapati adalah sebuah tempat makan yang sempit (hanya ada lima meja ), tembok kusam, dan pedagang berusia paruh baya yang ramah. Saya lebih memilih kata ‘nyaman’ untuk mendeskripsikan tempat ini.

Empat teguk. Ibadah di masjid Koutoubia, saya mendapati beberapa tatapan heran dari warga lokal yang melihat ras seperti saya menunaikan sholat. Seperti semua tempat ibadah berbagai agama yang saya masuki, perasaan kalem dan sejuk memenuhi hati saya yang kadang sering lupa ini. Termasuk lupa dengan nama lokasi reruntuhan istana yang luar biasa luas dan saya gunakan sebagai latar belakang foto orang tampan berpeci di halaman muka blog sampah ini. Lupa dengan membosankannya landscape dari Menara Garden (untung gratis). Lupa dengan bagaimana ceritanya kita bisa tidak jadi masuk ke Medersa Ben Yousef (seingat saya karena mahal). Lupa mengecek kalau atm disini tidak bisa digunakan untuk kartu eropa.

Engkau Maha lupa sekaligus Maha ingat, berikan kebijaksanaan-Mu untuk setiap lupaku dan kedewasaan-Mu untuk setiap ingatanku.

Saya mendengar geraman kasar dari dasar gelas jus di tegukan ke-lima.

“Oh, jus nya sudah habis, mari kita kejar pesawat kita!!”

Saya berlari bersama sembilan teman saya, tertawa bersama, meloncat-loncat kegirangan, menyapa setiap tatapan mata yang mengarah kepada kita, dan  menyalami kusir-kusir delman yang sedang tak berkendara. Oke, saya melebih-lebihkan ceritanya. Kenyataannya, kita melanjutkan perjalanan ke bandara dengan menawar setiap taksi yang lewat, di bawah terik matahari, keringat menggantung di ujung hidung, wajah-wajah lelah, dan baru mendapatkan deal untuk tiga taksi satu jam kemudian.

Menara Marrakesh Airport

Menara Marrakesh Airport

Kita terbang dari Menara Airport-Marrakesh menuju Girona-Barcelona. Bandara bergaya modern dengan motif kerangka wajik berwarna putih, memiliki sudut yang smooth, dan diisi dengan kaca-kaca berwarna hijau dengan motif zouak putih. Kasihan, bandara ini disebut sebagai bandara Dubai dalam Sex and The City 2, begitu juga dengan identitas souk Maroko yang digunakan sebagai lokasi film ini. Saya lebih kasihan dengan Dubai karena mereka tidak mempunyai budaya. Semoga film selanjutnya menggunakan identitas asli dari lokasi. Semoga saya semakin beraksi.

Kata orang bijak, rima adalah keindahan untuk mengakhiri kalimat.

nb. Insipirasi quote Woody Allen saya dapat dari Linimasa.

Marrakech-Madrid (Prolog)

 

Old Medina

Jalanan Old Medina

 

The real voyage of discovery consists not in seeking new landscapes but in having new eyes.”

-Marcel Proust-

Kutipan quote dari Proust memberi saya pemikiran baru saat berjalan menuju penginapan di wilayah Djemaa el Fna. Selain itu, mengutip Proust membuatku tampak pintar, seorang badass di dunia sastra. Padahal kutipan itu muncul di salah satu tugas essay dari kampus. Dan saya tidak begitu mengenal Proust beserta karya-karyanya.

Saat bergerak di jalan kosong kawasan Old Medina-Marrakesh yang menggemakan langkahku, yang saya dapat adalah new landscape. Maaf Proust, saya masih memiliki mata yang lama.

Disini saya melihat jejeran tembok tanah liat berwarna pink pucat dengan lampu bercahaya kuning yang tampak malas untuk memberikan terangnya, memanjang dan maju mundur tak beraturan, menaungi bilik-bilik toko yang tampak lelah setelah seharian berusaha menarik pengunjung, sesekali menemui pintu mewah dengan ukiran tanaman dengan garis kaku khas Maroko (kami menyebutnya pintu ‘Pak RT’ atau ‘Pak RW’, sesuai dengan kemewahan ukiran dan ukuran pintu). Bau yang sering saya temui di pasar tradisonal Indonesia tidak ada di sini. Mengejutkan, karena gambaran disini akan cocok dengan bau pasar. Gambaran yang pernah saya lihat di film Prince of Persia atau Lawrence of Arabia.

Oke saya belum pernah menonton Lawrence of Arabia, tetapi berada disini, adalah landscape yang baru. Saat berjalan, bayangan selama di Madrid muncul di kepala. Berusaha membandingkan dengan gambaran baru yang sedang saya lihat. Kontras, sangat kontras. Madrid, putih. Marrakesh, pink pucat. Madrid, tembok batu. Marrakesh, tanah liat.

Saat mendarat di Bandara Adolfo Suárez Madrid-Barajas, saya merasa malas karena sudah mulai bosan dengan kota-kota eropa yang tampak sama. Rapi, teratur, kereta tepat waktu, tanpa kejutan. Setelah berjalan cukup jauh yang membuat kita berteori kalau pesawat budget semacam Ryan Air yang kita tumpangi mendapat jatah parkir di bagian ekor naga bandara, dan transportasi publik ke kota berada di kepala naga bandara. Saya membayangkan Adolfo Suárez adalah nama naga Spanyol dan tata letak ruang-ruang Bandara mengambil bentuk naga klasik ala Eropa.

Sebenarnya Adolfo Suárez adalah nama Perdana Menteri Spanyol pertama setelah era kediktatoran Jenderal Franco yang meletakkan dasar demokrasi di negeri ini.

Saat menaiki eskalator dengan signage ‘metro’ di dalam kotak berwarna biru yang menimpa wajik putih dengan outline merah. Logo dari jaringan kereta dalam kota Madrid. Saya terkejut dengan banyaknya manusia yang mengantri mesin tiket. Ketidakteraturan yang jarang saya temui di Eropa.

Setelah mengantri, saya bersama 6 orang kawan seperjalanan hanya bisa menatap mesin penjual tiket yang membingungkan. Selain itu interface design dari layar penjual tiket didesain dengan selera seorang tante kesepian yang sedang dalam krisis paruh baya. Full Colour. Aldi meminta tolong kepada seorang penjaga gerbang yang tampak sibuk membantu setiap pengunjung. Penjaga itu masih muda, sekitar 20 tahun-an, brewokan seperti tipikal pemuda Spanyol, dan tidak bisa berbahasa inggris, bersedia membantu membelikan tiket kereta. Secara umum, tiket kereta bandara adalah suplemen sendiri yang harus dikombinasikan dengan tiket metro dan dibeli secara terpisah. “besok besok, lebih baik beli daily ticket aja deh” pikir saya.

Saya dan rombongan (Nasha, Tiffany, Grace, Dedes, Aldi, dan Windi) mempunyai waktu 6 jam 10 menit untuk dihabiskan di Madrid, dan sejam sudah dihabiskan untuk keluar dari labirin bandara menuju kota. Kami menuju Puerta del Sol.

Puerta Del Sol

Puerta Del Sol

Muncul dari ke permukaan tanah Madrid, kita disambut dengan gelombang keramaian manusia di plaza ini. Dikelilingi bangunan khas Eropa dengan ukiran-ukiran dengan tiang-tiang klasik. Ukiran ini dimaksudkan untuk menutupi sambungan, menggambarkan kepalsuan Eropa zaman dahulu. Tampak patung kuda dengan kaki depan terangkat satu sedang dalam renovasi. Di salah satu ujung, ada patung beruang sedang memegang…brokoli, mungkin itu brokoli. Saya terlalu lapar untuk mencari makna lambang kota Madrid tersebut di internet. Paella adalah makanan pertama yang terbesit di otak laparku. Menurut sumber di internet, saya bisa mendapat full course menu sepuasnya termasuk minum dengan harga EUR 9.90 di restoran All You Can Eat dekat dengan Puerta del Sol.

Paella

Paella

Menu makan siang di All You Can Eat tersedia setelah pukul 12:00. Jam menunjukkan pukul 11:00. 7 perut lapar. Kami memutuskan restoran secara random di sekitar sini. 5 menit kemudian, kami sudah duduk di restoran bergaya renaissance yang tampak ramai dengan menu paella yang sebenarnya terlalu awal bagi orang lokal. Tetapi kami lapar. Kami memesan paella seharga EUR 12, masing-masing 1 porsi untuk dua perut. Karena kami ber-tujuh, ada satu orang yang memiliki dua perut untuk menampung seporsi besar paella. Saya makan dengan khusyu, memejamkan mata menikmati paella saya yang terasa hambar dengan tekstur gurih kuat dari seafood.  

 “Malaysia, my brother?”

“Kuala Lumpur?”

“Oooh, Indonesia”

Mata saya terbuka dan melihat jalanan sempit dengan bangunan berwarna pink pucat beraroma saffron. Di Wikipedia, aroma dan rasa saffron diasosiasikan dengan madu dengan note jerami atau rerumputan. Saya belum pernah memakan jerami tetapi anda akan mengerti setelah memakan masakan lokal. Ini ada di setiap masakan Maroko.

Sekumpulan orang lokal tersebut, mungkin ada sekitar 4 orang, berwajah ramah, brewokan, kaukasoid.

“Wanna go to Equity Point?”

“I think you took a wrong way”

“You should go there”, sembari menunjuk arah berlawanan dari kita.

Seseorang di antara mereka, yang paling pendek dan tampak pendiam, bergegas dan memandu kita melalui jalan yang lebih sempit menuju ke Hostel. Lurus, masuk gapura tanah liat kecil, masuk ke gang selebar dua langkah, belok kiri, kanan. Sempat terbesit tentang human trafficking, tetapi kita ber-10 (Henry, Roy, dan Fitri bergabung di Marrakesh), setidaknya kita bisa memberikan perlawanan yang berarti.

Saat saya berpikir untuk mematahkan leher salah satu anggota kelompok international human trafficking, tampaknya kita telah tiba di hostel. Di pintu Pak RT (bukan Pak RW karena lebih kecil dan ukirannya tidak begitu rumit), di sudut jalan kecil bertembok tanah liat pink pucat, tertulis “Equity Point Hostel”. Duduk pria kaukasoid bertubuh gempal dengan nametag ‘security’ menyapa kita dengan geraman sembari membuka pintu Pak RT.

“Equity Point Hostel, the gardener is my sister”, ujar pria lokal pendek sembari tersenyum dan berbalik badan untuk meninggalkan kita. Saya bergegas mengambil 10 dirham dan menepuk pundaknya untuk kuberikan kepadanya.

“Thank you” ujar saya.

Dia menerimanya. Dia tidak meminta dirham. Saya memberinya tanpa diminta.

Equity Point tampak mewah dengan kolam renang di depan ruang kita. Untuk harga EUR 13 per malam, ini tampak murah. Saya terlalu lelah untuk mendeskripsikan Hostel ini. Masing-masing sibuk dengan gadget nya untuk update di path. Termasuk saya. Kemudian saya tidur. Berpikir, sekali lagi maaf Proust, saya masih hanya mendapatkan landscape baru, belum mata baru.

Atau mungkin dengan pengalaman barusan bersama sang pria lokal pendek memberikanku pandangan baru terhadap orang lokal. Saya salah.