Manis bukan Berarti Dimadu

meaning of life meme 2

Aku sedang berusaha keras menutup iklan pop-up tentang pembesar penis ketika streaming Liga Champion. Di saat yang bersamaan, pintu kamar terbuka, saya sarungan, dan tetangga housing lewat sembari mencuri pandang ke layar laptopku. Dua gadis british terkikik geli.

Kenal manis, tapi nggak tau kalo itu gula. Melewatkan makna sebenarnya karena cuma merasakan, bukannya memahami.

Mungkin seperti itulah kebanyakan orang memandang dunia ini. Dunia yang mengajarkan untuk melihat tapi nggak memperhatikan, mendengar tapi bukan mendengarkan, dan berpikir tanpa memaknai. Tau kalau itu manis tapi nggak kenal kalau itu madu.

Salah satu pertanyaan saat wawancara beasiswa adalah mengenai bagaimana kalau ilmu master yang kuambil (kalau lulus) tidak terpakai saat bekerja. Dengan mengaggumkan, aku berbicara tentang rencanaku yang jauh dari mengejar gelar belaka. Aku ingin memaknai eksistensi hidupku di dunia ini, tidak cuma mendengar cerita di dalam gua Indonesia.  Kalau nggak salah aku menggunakan kata “menemukenali diri sendiri” agar tampak cerdas. Tampaknya omong kosongku bekerja, karena beberapa minggu kemudian aku dinyatakan lolos seleksi wawancara.

Tapi memang, kalau boleh jujur, tidak ada hal baru yang kudapat dari mata kuliah Rijkuniversiteit Groningen, selain baru tahu kalau bahasa inggrisnya iya adalah yes bukan iyes. (“Pantesan lu resit mulu ya”, kata seorang kawan yang kebetulan lewat).

Pekerjaanku sebagai Aparatur Sipil Negara lebih banyak mengajarkan hal baru saat bersentuhan dengan masyarakat, ketimbang melahap 60 ECTS kuliah di Belanda. (“Bukannya lu baru sekali doang ke kawasan kumuh bray?”,timpal seorang kawan yang gemuk dan berkeringat sembari lewat).

Makannya aku banyak berjalan-jalan untuk melihat Negara sekitar, untuk menemukenali jati diri sendiri dan makna diriku. Menurutku, itulah yang terpenting sebelum kembali ke Negaraku Indonesia tercinta. (“Alesaann ah nang”, kata simbok-ku)

Anyway, dunia ini mengajarkan untuk mengejar uang, tanpa tau buat apa uang itu sebenarnya. Pemuda pemudi tanggung yang baru wisuda sudah menelusuri portal lowongan kerja dengan kata kunci “gaji minimum”. Mereka kurang begitu peduli dengan latar belakang perusahaan, asalkan perusahaan itu besar. Setelah diterima di perusahaan multinasional, mereka merendahkan kondisi Indonesia sembari memperkosa kondisi alam dan sosial suatu Negara.

Di artikel Rhenald Kasali dalam milis beasiswa saya, disebutkan bahwa Harvard memajang esai mahasiswanya yang berisi tentang impian mereka yang jauh dari materi duniawi belaka. Kebanyakan mereka berusaha mencari makna hidup mereka saat bermaksud kuliah disana.

Mungkin ini yang dibutuhkan pemuda pemudi Indonesia. Kalau dari filsafat jawa, orang bermartabat mempunyai keris sebagai lambang kebijaksanaan. Derajat di bawahnya punya pedang dan tombak (lambang kekuatan dan kekuasaan). Di bawahnya lagi pacul/cangkul (lambang harta).

Selain itu, Adam itu sudah didesain Tuhan sebagai “Ahsanu taqwim” (QS 95:4), yakni mahluk hidup sebaik-baiknya, lebih baik dari malaikat dan iblis, karena diberi kesempatan buat mencari makna hidup. Modal sudah diberi oleh Tuhan. Tinggal manusia sendiri yang memoles, mau jadi apa.

Maka, temukan kerismu dan poleslah! selamat hari kebangkitan nasional. (matiin situs porno terus sholat).

 

 

Advertisements

Ethos of being Modern Society

 

Fitter Happier by Radiohead

more productive
comfortable
not drinking too much
regular exercise at the gym (3 days a week)
getting on better with your associate employee contemporaries
at ease
eating well (no more microwave dinners and saturated fats)
a patient better driver
a safer car (baby smiling in back seat)
sleeping well (no bad dreams)
no paranoia
careful to all animals (never washing spiders down the plughole)
keep in contact with old friends (enjoy a drink now and then)
will frequently check credit at (moral) bank (hole in wall)
favours for favours
fond but not in love
charity standing orders
on sundays ring road supermarket
(no killing moths or putting boiling water on the ants)
car wash (also on sundays)
no longer afraid of the dark
or midday shadows
nothing so ridiculously teenage and desperate
nothing so childish
at a better pace
slower and more calculated
no chance of escape
now self-employed
concerned (but powerless)
an empowered and informed member of society (pragmatism not idealism)
will not cry in public
less chance of illness
tires that grip in the wet (shot of baby strapped in back seat)
a good memory
still cries at a good film
still kisses with saliva
no longer empty and frantic
like a cat
tied to a stick
that’s driven into
frozen winter shit (the ability to laugh at weakness)
calm
fitter, healthier and more productive
a pig
in a cage
on antibiotics