Cerpen Venice

3

Kupandangai peta dengan tag lingkaran merah menyala bertuliskan ‘you are here’ di atas Pulau Giudecca. “mungkin ini menunjukkan lokasiku berada”, gumamku.

Bau amis dan asin yang dibawa angin Laut Adriatic menghambur dengan dentang lonceng memasuki setiap inderaku. Burung-burung beterbangan, dikejar anak-anak kecil. Tampak kerumunan kecil manusia tidak jauh dariku. Mereka memandang antusias ke arahku.

Sungai beruas-ruas masuk ke sela-sela deretan rumah bergaya renaissance. Papan-papan bertuliskan ‘canale’ ada di setiap sungai itu, baik yang kecil maupun yang besar. Banyak orang-orang bodoh yang menggunakan kapal berukuran satu ekor gajah agar bisa berjalan di atas sungai yang besar. Bodoh karena tidak ada mahluk di bumi ini yang hidupnya berjalan di atas air.

Aku kembali fokus memandang peta warna-warni. Aku sepertinya pernah mengenali bentuk ini.

Ada kapal kecil berwarna hitam mengkilat ala kecoak menyembul dari gang sungai yang kecil. Satu orang berdiri, berbaju garis-garis horizontal hitam dan putih, memegang tongkat untuk mendorong kapal. Di kapal kecil itu, ada juga yang duduk, cuma dua orang, kalau tidak salah mereka sering saling memegang pinggang dan berciuman. Ah, hanya orang bodoh. Sial! fokusku teralihkan.

Aku melihat peta lagi. Kemudian aku menengok ke kaca yang memantulkan tubuhku. Aku terkesiap, tersadar dengan apa yang ingin disampaikan peta ini.

Warna hijau, orange, biru, merah, dan hijau lagi (tetapi lebih gelap) mengalihkan perhatianku. Sudah satu jam aku berusaha memecahkan kode peta ini. Setiap warna tadi mengisi kotak-kotak yang bentuknya tidak beraturan. Kemudian secara acak garis putih dan biru mengisi sela kotak-kotak itu. Serupa urat nadi yang menyeruak di dalam otot dan daging. Warna biru yang lebih besar mengelilingi keseluruhan.

Kulihat lagi bayangan tampak sampingku. Peta ini mirip dengan apa yang menggantung di antara kedua pahaku. Mirip penisku, tetapi dari samping. Sekarang aku mengerti kenapa di atas warna biru yang luas tertulis “Map of Venice’s Sestieri’”. Pencipta pulau ini ingin bermain teka-teki kata denganku.

“Hihi, kau kira aku tertipu dengan memelesetkan penis menjadi venice” pikirku.

Aku melompat kegirangan, tertawa, dan berteriak “eureka!”.  Seperti orang gila, aku berlari menghampiri kerumunan manusia yang terdiri dari semua sub-jenisnya. Pria, wanita, tua, muda, besar, kecil, pintar, bodoh, sosialis, kapitalis, hitam, pucat, coklat,,,Tetapi semua ekspresi mereka sama, mengrenyit dan tampak, takut. Kenapa?

Satu kapal putih bertuliskan ‘polizia’ tampak tergesa-gesa datang ke arahku, bersusah payah kembali ke jalur setelah berkali-kali terhempas ke belakang.  Aku tertawa geli melihat ritme gerakan kapal yang tampak seperti orang sedang bercinta.

Setelah kapal tertambat, dua orang dengan seragam atasan biru muda dan celana panjang bergaris merah datang menghampiriku. Satu orang memiliki wajah yang tersenyum, bahkan saat tidak tersenyum. Tampaknya dia mempunyai masalah dengan lehernya, karena dia selalu melempar dagunya ke kanan setiap dua menit. Seorang lainnya, lebih pendek, berkumis, berkulit lebih gelap, dan tampak memiliki masalah dengan rambut rontok. Wajahnya mengingatkanku pada tokoh Sentenza alias Angel Eyes alias The Bad di film The Good, The Bad, and The Ugly. Keduanya memakai sunglass.

“Maaf pak, please, ikut saya”, satu orang berujar seraya memegang lenganku dengan senyum abadi-nya.

“Apakah kamu mengajakku untuk naik kapalmu?”, tanyaku

“Tentu”,

“Baiklah, aku mempunyai temuan menarik”, sembari berjalan riang mengikutinya, melewati Sentenza alias Angel Eyes alias The Bad.

“Lapor, sudah diamankan, pria asia, usia sekitar 25 tahun, diduga bermasalah dengan kesehatan mentalnya, dan telanjang” ujar Sentenza alias Angel Eyes alias The Bad kepada radio genggamnya.

Saat akan melangkah ke kapal, kurasakan dingin air di telapak kakiku yang telanjang. Kubaca koran pagi ini memang akan terjadi acqua alta dalam 3 hari ke depan. Kupandangi orang-orang yang menumpangi kapal. Bodohnya mereka, manusia tidak seharusnya jalan di atas air. Manusia seharusnya terbang.