Cerpen Groningen

Groningen Centrum dan Martini Tower

Groningen Centrum dan Martini Tower

Di tengah plaza, 2 remaja kaukasian dan 1 remaja negro, menendang terbang burung-burung merpati yang tengah mematuk taburan kue dari anak kecil dan bapaknya. Si anak menangis, bapak menggendongnya, dan tiga remaja tadi berjalan pergi sembari tertawa lepas. Burung-burung merpati berhamburan kembali mematuk kue dengan wajah masa bodoh.

Ansel kembali menyilangkan kaki bak wanita setelah sebelumnya mengangkang dengan tangan bersandar di trap-trap kayu serupa tangga yang menjadi tempat duduk bergaya kontemporer tipikal Eropa Utara. Grote Markt hari ini tengah diguyur limpahan sinar matahari sore Groningen yang lumayan hangat, namun menjadi sia-sia karena tertutup bayangan gedung Groninger Forum ditambah angin dingin Groningen yang masih picik. Di sudut jalan, bunga-bunga corydalis cava mulai bermekaran dengan warna ungu, malu-malu membingkai Martini Tower yang menjadi landmark kebanggan warga Groningen.

“Aku benci angin dingin di sini” gerutu Anselmo.

Ansel harus kembali ke kota yang dianggapnya membosankan ini. Lima tahun lalu, dia hanya mahasiswa arsitektur pemarah berkebangsaan Angola yang mengambil pogram master di Rijkuniversiteit Groningen. Menghabiskan waktunya dengan berjalan-jalan sambil menyumpahi betapa membosankannya Groningen, travelling, berbelanja, memasak, membaca buku, dan, tentu saja, kuliah. Gedung Groninger Forum saat itu sedang dibangun. Kini dia sudah menjabat sebagai associates di firma arsitektur terkemuka yang berpusat di London. Dia hanya ditugaskan untuk mengecek persiapan kantor cabang yang akan dibuka dua bulan lagi.

Dia memandang nanar toko-toko yang sudah bersiap tutup. Jam tangan superdry berwarna orange yang setia di tangannya sedari umur 21 tahun memberitahu waktu sudah semakin petang. Jarum panjang sudah 30 menit melewati angka 5. Femke janji hadir pukul 5 sore. Umur Ansel saat ini 26 tahun, dia sudah bertransformasi menjadi manusia yang sabar.

Ansel  berkenalan dengan Femke saat dia membeli buku bertema arsitektur. Femke menjadi penjaga toko buku Boekhandel Riemer yang bergaya minimalis kontemporer bernuansa coklat muda dan berdiri dengan khidmat di sudut jalan Nieuwe Ebbingestraat. Ansel langsung terkesima dengan senyum gigi putih Femke yang menyambutnya saat masuk ke dalam toko. Mungkin giginya tampak putih karena kontras dengan warna kulitnya yang coklat muda dan rambutnya yang berwarna hitam legam terurai berantakan hingga bahu. Wajahnya menunjukkan garis-garis tajam kaukasian yang diwarisi dari ayahnya, seorang pelaut Groningen yang menikah dengan mahasiswi dari Ghana.

“Hoooi!”, teriakan seorang wanita melatarbelakangi perpindahan posisi kaki Ansel yang kembali mengangkang untuk ke-7 kalinya.

Akhirnya, batin Ansel.

“Oke, kamu berhak kubayarin cokelat panas”, tukas Femke saat melihat mulut Ansel yang mulai menganga untuk menyemburkan protes.

“Plus burger”

Deal !”

“Kota macam apa sih, jam segini sudah banyak toko tutup”

Kata-kata dari Femke memberikan serangan déjà vu. Kata yang sama persis keluar ketika mereka pertama berkencan, setelah Ansel menghabiskan stok keberaniannya untuk mengajak Femke. Membutuhkan waktu 1 bulan 7 hari sejak mereka bertemu di Toko Buku dan intens berkomunikasi via Whatsapp hingga Ansel berhasil mengumpulkan keberanian. Kemudian mereka menghabiskan 5 jam kencan pertama mereka sebagian besar dengan hujatan-hujatan untuk Groningen, selain standar percakapan kencan pertama seperti keadaan keluarga dan pekerjaan beserta anekdot-anekdotnya.

“Maaf ya Ansel, aku harus menidurkan si bungsu”, senyum Femke.

“Iya”, Ansel masih terpesona dengan senyum Femke.

5 Tahun kemudian, mereka bertemu dengan kondisi masing-masing. Femke sudah beranak dua dan menikah dengan mahasiswa Indonesia yang bekerja sebagai dokter di Groningen. Dia sudah meninggalkan pekerjaannnya sebagai penjaga toko buku. Ketika mendengar kabar pernikahan mereka, Ansel terpukul. Menghabiskan waktunya dengan membabi buta melahap semua pekerjaan di kantor. Sisi positifnya, dia mendapatkan jabatan sebagai lead architect dalam dua tahun dan baru dua bulan menjalani jabatan yang sekarang, termuda di antara koleganya.

Pikiran pilu masa depan tanpa Femke kembali menghampiri hati Ansel. Kafe di seberang Boekhandel Riemer yang menjadi tempat kencan pertama mereka tampak hangat. Mereka berjalan menuju kesana dan tertawa mengenang kenangan, namun hati Ansel tercekat. Begitu juga dengan Femke.

Advertisements