Marrakesh (Fin)

Djemaa El Fnaa

Djemaa El Fnaa

 

“If you want to make God laugh, tell him about your plans”

-Woody Allen-

Di atas kasur tingkat Equity Point Hostel yang reyot tapi nyaman, terdengar hembusan nafas kasar dari teman seperjalananku, dengan latar belakang suara air mancur. Saya masih terjaga. Melihat sudut kamar bertembok tanah liat yang gelap. Lifehacker.com mengatakan, untuk bisa melihat dalam gelap, jangan melihat sumber cahaya dan gunakan satu mata. Itu sebabnya bajak laut memakai penutup satu mata.

Dengan satu tangan di mataku, saya berpikir untuk perjalanan di Marrakesh yang akan berlangsung dua jam lagi. Kubayangkan panas gurun yang memberikan pandangan blur dan bergoyang-goyang seperti yang pernah saya lihat di atas aspal Indonesia.

Saya berencana ke tempat yang sangat dingin setelah dari Maroko. Iceland (pulau es) secara harafiah sudah sesuai dengan keinginan saya. Selain itu, saya ingin bernapas dan menginjakkan kaki di Iceland karena Film seri Game of Thrones dan band bernama Sigur Rós.

Kata Woody Allen “Kalo kamu ingin bikin Tuhan tertawa, katakan rencana mu”.

“Saya punya rencana ke Iceland ya Tuhan”

Semua suara di sekitar saya berhenti.

“Oke, kamu akan kesana”, kata Tuhan sambil tertawa geli.

“Kapan? Kenapa tertawa?”, terkejut dengan suara di kepala saya.

“Lihat saja nanti”, kata-Nya sambil terkikik.

Suara dengkur Aldi dengan gemericik air mancur terdengar lagi. Kulepas tangan di mata kananku. Apakah lifehacker.com salah? Karena saya sedang melihat ke dalam gelap, dan sumber cahaya dunia menjawabnya. Ah, bukankah Tuhan penguasa terang dan gelap. Mungkin Beliau menjawab karena saya menggabungkan dua elemen itu. Semoga selera humor Tuhan menjadikanku manusia lebih baik. Amin.

Pagi sudah tiba, semua bersiap untuk meng-eksplorasi Kota Marrakesh ini. Kota ini dipakai sebagai lokasi shooting serial Game of Thrones, dalam scene kota yang di atas tanah gersang berpadang pasir yang memiliki budaya memperbudak manusia. Teman-teman sudah menyesuaikan pakaian dengan kondisi geografi disini. Kain tipis yang memberikan angin untuk berjalan menyusuri kulit telanjang kita. Alas kaki yang empuk di telapak kaki namun ber-sol keras. Kacamata matahari. Dan saya, memasang peci di kepala kemudian mulai melangkah ke Marrakesh dengan memegang gulungan itinerary di tangan kanan.

Teman- teman bergerombol membeli jus jeruk di Djemaa el Fna. Saya memilih stall yang berbeda dengan mereka karena prinsip pemerataan ekonomi, selain itu, memang saya orang yang individualis. Air jeruk segar dengan bulir-bulir yang memberikan tekstur empuk di mulut dan tenggorokan membasuh pikiran skeptis saya tentang rasa jus jeruk ini. Sebelumnya, saya merasa komentar tentang luar biasanya rasa jus jeruk di Maroko adalah overrated (seperti semua komentar di trip advisor). 5 dirham untuk satu gelas tipikal jus dan ini benar-benar great deal. Anda tidak akan menemukan rasa yang sama di Indonesia. Manis, asam, dan pahit memiliki rasio komposisi yang sama, berpadu menjadi satu kata, wuenak!

Satu teguk kesegaran. Saya melihat keramaian Old Medina di siang hari. Sangat kontras dengan perasaan malas dan tentram di malam hari. Dua hari sudah kita lewati di Marrakesh sejak dialog fiktif saya degan Tuhan. Malaysia, Jepang, Filipina, Korea, Indonesia, India, Kuala Lumpur, dan Jakarta adalah nama panggilan dari pedagang untuk kita selama mengintari souk-souk di Old Medina. Jika anda pecundang seperti saya, saya sarankan untuk tidak berkontak mata dengan pedagang, mereka akan berusaha menarikmu ke toko-nya. Namun, mereka tetap berterima kasih mekipun kita menolaknya. Wahai pecundang, beranilah menolak. Kuulang kalimat itu di kepala.

Bahia Palace

Bahia Palace

Dua teguk. Tembok putih dan keramik berwarna biru, tiang yang melengkung, courtyard yang semakin sejuk dengan keberadaan taneman-taneman berukuran kecil hingga sedang, langit-langit kayu cedar dan kusen berukir, serta sebaran motif zouak adalah definisi kecantikan yang digunakan arsitek Bahia Palace. Bahia memiliki padanan kata “istana kecantikan”. Istana ini dibangun pada 1860-an atas ide dari Si Musa, grand vizier/wazir (penasehat) Raja Maroko, untuk tempat tinggal anak dan penerusnya, Ahmed Ibn Moussa. Ahmed Ibn Moussa memiliki 4 istri dan 24 selir. Sebelum menjadi penasehat, Si Musa adalah budak di istana. Kata teman saya, Bahia Palace baru saja digunakan untuk lokasi foto America’s Next Top Model. Mungkin ini memang tempat dimana kecantikan bersemayam. Seperti kata promosi tempat ini, “You will literally get lost in the beauty”.

Tanjine

Tajine

Tiga teguk. Saya mengingat gurihnya rasa rabbit tajine yang dijual di Café Tiznit. Harganya tidak mahal, mungkin setara dengan harga tongseng di Jakarta. Restoran keluarga yang sederhana namun mendapat banyak referensi di Trip Advisor dan Time Out. Lokasinya berada di salah satu sudut Djemaa el Fna. Kita harus mengintari setiap sudut lapangan ini untuk menemukannya. Beruntung, salah satu kawan kita, Windi, ulang tahun dan membayar semua makanan. Dan karena itu saya tidak ingat harganya. Komentar di situs web tadi menyebutkan betapa kotornya tempat ini. Belajar dari sebelumnya, jangan percaya komentar di trip advisor, mereka bukan kita. Yang saya dapati adalah sebuah tempat makan yang sempit (hanya ada lima meja ), tembok kusam, dan pedagang berusia paruh baya yang ramah. Saya lebih memilih kata ‘nyaman’ untuk mendeskripsikan tempat ini.

Empat teguk. Ibadah di masjid Koutoubia, saya mendapati beberapa tatapan heran dari warga lokal yang melihat ras seperti saya menunaikan sholat. Seperti semua tempat ibadah berbagai agama yang saya masuki, perasaan kalem dan sejuk memenuhi hati saya yang kadang sering lupa ini. Termasuk lupa dengan nama lokasi reruntuhan istana yang luar biasa luas dan saya gunakan sebagai latar belakang foto orang tampan berpeci di halaman muka blog sampah ini. Lupa dengan membosankannya landscape dari Menara Garden (untung gratis). Lupa dengan bagaimana ceritanya kita bisa tidak jadi masuk ke Medersa Ben Yousef (seingat saya karena mahal). Lupa mengecek kalau atm disini tidak bisa digunakan untuk kartu eropa.

Engkau Maha lupa sekaligus Maha ingat, berikan kebijaksanaan-Mu untuk setiap lupaku dan kedewasaan-Mu untuk setiap ingatanku.

Saya mendengar geraman kasar dari dasar gelas jus di tegukan ke-lima.

“Oh, jus nya sudah habis, mari kita kejar pesawat kita!!”

Saya berlari bersama sembilan teman saya, tertawa bersama, meloncat-loncat kegirangan, menyapa setiap tatapan mata yang mengarah kepada kita, dan  menyalami kusir-kusir delman yang sedang tak berkendara. Oke, saya melebih-lebihkan ceritanya. Kenyataannya, kita melanjutkan perjalanan ke bandara dengan menawar setiap taksi yang lewat, di bawah terik matahari, keringat menggantung di ujung hidung, wajah-wajah lelah, dan baru mendapatkan deal untuk tiga taksi satu jam kemudian.

Menara Marrakesh Airport

Menara Marrakesh Airport

Kita terbang dari Menara Airport-Marrakesh menuju Girona-Barcelona. Bandara bergaya modern dengan motif kerangka wajik berwarna putih, memiliki sudut yang smooth, dan diisi dengan kaca-kaca berwarna hijau dengan motif zouak putih. Kasihan, bandara ini disebut sebagai bandara Dubai dalam Sex and The City 2, begitu juga dengan identitas souk Maroko yang digunakan sebagai lokasi film ini. Saya lebih kasihan dengan Dubai karena mereka tidak mempunyai budaya. Semoga film selanjutnya menggunakan identitas asli dari lokasi. Semoga saya semakin beraksi.

Kata orang bijak, rima adalah keindahan untuk mengakhiri kalimat.

nb. Insipirasi quote Woody Allen saya dapat dari Linimasa.

Advertisements

2 thoughts on “Marrakesh (Fin)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s