Marrakech-Madrid (Prolog)

 

Old Medina

Jalanan Old Medina

 

The real voyage of discovery consists not in seeking new landscapes but in having new eyes.”

-Marcel Proust-

Kutipan quote dari Proust memberi saya pemikiran baru saat berjalan menuju penginapan di wilayah Djemaa el Fna. Selain itu, mengutip Proust membuatku tampak pintar, seorang badass di dunia sastra. Padahal kutipan itu muncul di salah satu tugas essay dari kampus. Dan saya tidak begitu mengenal Proust beserta karya-karyanya.

Saat bergerak di jalan kosong kawasan Old Medina-Marrakesh yang menggemakan langkahku, yang saya dapat adalah new landscape. Maaf Proust, saya masih memiliki mata yang lama.

Disini saya melihat jejeran tembok tanah liat berwarna pink pucat dengan lampu bercahaya kuning yang tampak malas untuk memberikan terangnya, memanjang dan maju mundur tak beraturan, menaungi bilik-bilik toko yang tampak lelah setelah seharian berusaha menarik pengunjung, sesekali menemui pintu mewah dengan ukiran tanaman dengan garis kaku khas Maroko (kami menyebutnya pintu ‘Pak RT’ atau ‘Pak RW’, sesuai dengan kemewahan ukiran dan ukuran pintu). Bau yang sering saya temui di pasar tradisonal Indonesia tidak ada di sini. Mengejutkan, karena gambaran disini akan cocok dengan bau pasar. Gambaran yang pernah saya lihat di film Prince of Persia atau Lawrence of Arabia.

Oke saya belum pernah menonton Lawrence of Arabia, tetapi berada disini, adalah landscape yang baru. Saat berjalan, bayangan selama di Madrid muncul di kepala. Berusaha membandingkan dengan gambaran baru yang sedang saya lihat. Kontras, sangat kontras. Madrid, putih. Marrakesh, pink pucat. Madrid, tembok batu. Marrakesh, tanah liat.

Saat mendarat di Bandara Adolfo Suárez Madrid-Barajas, saya merasa malas karena sudah mulai bosan dengan kota-kota eropa yang tampak sama. Rapi, teratur, kereta tepat waktu, tanpa kejutan. Setelah berjalan cukup jauh yang membuat kita berteori kalau pesawat budget semacam Ryan Air yang kita tumpangi mendapat jatah parkir di bagian ekor naga bandara, dan transportasi publik ke kota berada di kepala naga bandara. Saya membayangkan Adolfo Suárez adalah nama naga Spanyol dan tata letak ruang-ruang Bandara mengambil bentuk naga klasik ala Eropa.

Sebenarnya Adolfo Suárez adalah nama Perdana Menteri Spanyol pertama setelah era kediktatoran Jenderal Franco yang meletakkan dasar demokrasi di negeri ini.

Saat menaiki eskalator dengan signage ‘metro’ di dalam kotak berwarna biru yang menimpa wajik putih dengan outline merah. Logo dari jaringan kereta dalam kota Madrid. Saya terkejut dengan banyaknya manusia yang mengantri mesin tiket. Ketidakteraturan yang jarang saya temui di Eropa.

Setelah mengantri, saya bersama 6 orang kawan seperjalanan hanya bisa menatap mesin penjual tiket yang membingungkan. Selain itu interface design dari layar penjual tiket didesain dengan selera seorang tante kesepian yang sedang dalam krisis paruh baya. Full Colour. Aldi meminta tolong kepada seorang penjaga gerbang yang tampak sibuk membantu setiap pengunjung. Penjaga itu masih muda, sekitar 20 tahun-an, brewokan seperti tipikal pemuda Spanyol, dan tidak bisa berbahasa inggris, bersedia membantu membelikan tiket kereta. Secara umum, tiket kereta bandara adalah suplemen sendiri yang harus dikombinasikan dengan tiket metro dan dibeli secara terpisah. “besok besok, lebih baik beli daily ticket aja deh” pikir saya.

Saya dan rombongan (Nasha, Tiffany, Grace, Dedes, Aldi, dan Windi) mempunyai waktu 6 jam 10 menit untuk dihabiskan di Madrid, dan sejam sudah dihabiskan untuk keluar dari labirin bandara menuju kota. Kami menuju Puerta del Sol.

Puerta Del Sol

Puerta Del Sol

Muncul dari ke permukaan tanah Madrid, kita disambut dengan gelombang keramaian manusia di plaza ini. Dikelilingi bangunan khas Eropa dengan ukiran-ukiran dengan tiang-tiang klasik. Ukiran ini dimaksudkan untuk menutupi sambungan, menggambarkan kepalsuan Eropa zaman dahulu. Tampak patung kuda dengan kaki depan terangkat satu sedang dalam renovasi. Di salah satu ujung, ada patung beruang sedang memegang…brokoli, mungkin itu brokoli. Saya terlalu lapar untuk mencari makna lambang kota Madrid tersebut di internet. Paella adalah makanan pertama yang terbesit di otak laparku. Menurut sumber di internet, saya bisa mendapat full course menu sepuasnya termasuk minum dengan harga EUR 9.90 di restoran All You Can Eat dekat dengan Puerta del Sol.

Paella

Paella

Menu makan siang di All You Can Eat tersedia setelah pukul 12:00. Jam menunjukkan pukul 11:00. 7 perut lapar. Kami memutuskan restoran secara random di sekitar sini. 5 menit kemudian, kami sudah duduk di restoran bergaya renaissance yang tampak ramai dengan menu paella yang sebenarnya terlalu awal bagi orang lokal. Tetapi kami lapar. Kami memesan paella seharga EUR 12, masing-masing 1 porsi untuk dua perut. Karena kami ber-tujuh, ada satu orang yang memiliki dua perut untuk menampung seporsi besar paella. Saya makan dengan khusyu, memejamkan mata menikmati paella saya yang terasa hambar dengan tekstur gurih kuat dari seafood.  

 “Malaysia, my brother?”

“Kuala Lumpur?”

“Oooh, Indonesia”

Mata saya terbuka dan melihat jalanan sempit dengan bangunan berwarna pink pucat beraroma saffron. Di Wikipedia, aroma dan rasa saffron diasosiasikan dengan madu dengan note jerami atau rerumputan. Saya belum pernah memakan jerami tetapi anda akan mengerti setelah memakan masakan lokal. Ini ada di setiap masakan Maroko.

Sekumpulan orang lokal tersebut, mungkin ada sekitar 4 orang, berwajah ramah, brewokan, kaukasoid.

“Wanna go to Equity Point?”

“I think you took a wrong way”

“You should go there”, sembari menunjuk arah berlawanan dari kita.

Seseorang di antara mereka, yang paling pendek dan tampak pendiam, bergegas dan memandu kita melalui jalan yang lebih sempit menuju ke Hostel. Lurus, masuk gapura tanah liat kecil, masuk ke gang selebar dua langkah, belok kiri, kanan. Sempat terbesit tentang human trafficking, tetapi kita ber-10 (Henry, Roy, dan Fitri bergabung di Marrakesh), setidaknya kita bisa memberikan perlawanan yang berarti.

Saat saya berpikir untuk mematahkan leher salah satu anggota kelompok international human trafficking, tampaknya kita telah tiba di hostel. Di pintu Pak RT (bukan Pak RW karena lebih kecil dan ukirannya tidak begitu rumit), di sudut jalan kecil bertembok tanah liat pink pucat, tertulis “Equity Point Hostel”. Duduk pria kaukasoid bertubuh gempal dengan nametag ‘security’ menyapa kita dengan geraman sembari membuka pintu Pak RT.

“Equity Point Hostel, the gardener is my sister”, ujar pria lokal pendek sembari tersenyum dan berbalik badan untuk meninggalkan kita. Saya bergegas mengambil 10 dirham dan menepuk pundaknya untuk kuberikan kepadanya.

“Thank you” ujar saya.

Dia menerimanya. Dia tidak meminta dirham. Saya memberinya tanpa diminta.

Equity Point tampak mewah dengan kolam renang di depan ruang kita. Untuk harga EUR 13 per malam, ini tampak murah. Saya terlalu lelah untuk mendeskripsikan Hostel ini. Masing-masing sibuk dengan gadget nya untuk update di path. Termasuk saya. Kemudian saya tidur. Berpikir, sekali lagi maaf Proust, saya masih hanya mendapatkan landscape baru, belum mata baru.

Atau mungkin dengan pengalaman barusan bersama sang pria lokal pendek memberikanku pandangan baru terhadap orang lokal. Saya salah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s