Rabat | Sale

Saya dan Bandara Rabat

Saya dan Bandara Rabat

Saya menginjakkan kaki ke bandara kecil, seluas Bandara Halim Perdana Kusumah di Rabat, Ibukota Maroko. Kecil untuk ukuran bandara yang melayani ibukota. Maaf, setelah googling, ternyata bandara ini berada di Sale, sebuah kota ex permukiman bajak laut di abad 17. Orang juga banyak yang salah mengira kalo Bandara Soekarno-Hatta itu di Jakarta, padahal Tangerang.

Sebelum memutuskan untuk ke Maroko, saya tidak tahu jika Warga Negara Indonesia (WNI) bebas visa selama 3 bulan. Ketika salah seorang kawan memberi informasi tersebut, saya putuskan harus ke Maroko, meski saat itu virus ebola sedang menjadi tren di setiap koran dan majalah. Setelah googling dengan keyword “sejarah bebas visa ke Maroko”, saya menemukan blog yang memberikan penjelasan singkat mengenai hal tersebut.

Indonesia adalah salah satu negara yang mendukung kemerdekaan Maroko dari Prancis. Indonesia melalui Bung Karno adalah Negara pertama yang melakukan kunjungan resmi ke Maroko pada 2 Mei 1960. Bung Karno disambut meriah dan dihadiahi nama jalan (Rue Sukarno) dan bebas visa bagi rakyatnya hingga saat ini.

Aroma wangi karbol tercium di Bandara ini. Sepi, putih, dan menenangkan. Kontras dengan kesan Maroko yang disebut-sebut ‘orderly chaotic’. Di luar bandara tampak orang duduk-duduk di taman menikmati sinar matahari November yang tidak begitu panas. Tidak ada sopir taksi yang menawarkan jasanya di pintu keluar.

Kutukarkan uang 50 Euro dengan 575 dirham di sudut bandara. Dengan bahasa inggris, kutanya bagian informasi mengenai cara ke stasiun Rabat dan dijawab dengan tatapan tajam wanita paruh baya berkerudung merah dengan tag information di dadanya. Kusimpulkan sang wanita tidak mengerti bahasa inggris. Salah seorang dari 9 kawan seperjalananku bertanya dengan bahasa arab. Dijawab dengan tatapan tajam. Kemudian kutanya lagi “to Gare du Ville?” dengan gerakan tangan menunjuk ke pintu keluar. “Taxi, bus?” lanjutku. Kerut senyum di wajahnya muncul, “use taxi for 350 dirham”, geramnya dengan logat khas arab. Ternyata dia bisa bahasa inggris. Dan sebenarnya saya tahu tarif taxi di Maroko minimum 20 dirham.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s